Saturday, April 2, 2011

TEKNIK ANALISIS BIAYA DAN MANFAAT


8.1 Pendahuluan

Pengembangan suatu sistem informasi merupakan suatu investasi seperti
halnya investasi proyek lainnya. Investasi berarti dikeluarkannya sumber-
sumber daya untuk mendapatkan manfaat dimasa mendatang. Investasi untuk
mengembangkan sistem informasi juga membutuhkan sumber-sumber daya.
Sebagai hasilnya, sistem informasi akan memberikan manfaat-manfaat yang
dapat berupa penghematan-penghematan atau manfaat-manfaat yang baru.
Jika manfaat yang diharapkan lebih kecil dari sumber-sumber daya yang
dikeluarkan, maka sistem informasi ini dikatakan tidak bernilai atau tidak
layak. Oleh karena itu, sebelum sistem informasi dikembangkan, maka perlu
dihitung kelayakan ekonomisnya. Teknik untuk menilai ini disebut dengan
analisis biaya/keuntungan (cost/benefit analysis).Analisis biaya/keuntungan
disebut juga dengan analisis biaya/efektivitas (cost/ effectivenss
analysis). Keuntungan dari pengembangan sistem informasi tidak semuanya
mudah diukur secara langsung dengan nilai uang, seperti misalnya keuntungan
pelayanan kepada langganan yang lebih baik. Keuntungan yang sulit diukur
langsung dengan nilai uang ini selanjutnya jika ingin ditentukan dalam
bentuk nilai uang, maka dapat menaksir efektivitasnya.

8.2 Komponen biaya

Untuk melakukan analisis biaya/efektivitas diperlukan dua komponen, yaitu
komponen biaya dan komponan efektivitas. Biaya yang berhubungan dengan
pengembangan sistem informasi dapat diklasifikasikan ke dalam 4 kategori
utama, yaitu :
a. Biaya pengadaan (procurement cost).
b. Biaya persiapan operasi (start-up cost).
c. Biaya proyek (project-related cost).
d. Biaya operasi (on going cost) dan biaya perawatan (maintenance cost).

8.3 Biaya pengadaan (procurement cost)

Biaya pengadaan (procurement cost) termasuk semua biaya yang terjadi
sehubungan dengan memperoleh perangkat keras. Yang termasuk biaya pengadaan
ini adalah sebagai berikut :
a. Biaya konsultasi pengadaan perangkat keras.
b. Biaya pembelian atau sewa beli (leasing) perangkat keras.
c. Biaya instalasi perangkat keras.
d. Biaya ruangan untuk perangkat keras (perbaikan ruangan, pemasangan AC).
e. Biaya modal untuk pengadaan perangkat keras.
f. Biaya yang berhubungan dengan manajemen dan staff untuk pengadaan
   perangkat keras.
Biaya pengadaan ini biasanya merupakan biaya yang harus dikeluarkan pada
tahun-tahun pertama (initial cost) sebelum sistem dioperasikan, kecuali
untuk pengadaan perangkat keras dengan cara leasing.


8.4 Biaya persiapan operasi (start-up cost)

Biaya persiapan operasi (start-up cost) berhubungan dengan semua biaya untuk
membuat sistem siap untuk dioperasikan. Yang termasuk biaya-biaya persiapan
awal, antara lain :
a. Biaya pembelian perangkat lunak sistem.
b. Biaya instalasi peralatan komunikasi (sambungan telepon, satelit,
   frekuensi).
c. Biaya persiapan personil.
d. Biaya reorganisasi.
e. Biaya manajemen dan staff yang dibutuhkan dalam kegiatan persiapan
   operasi.
Biaya-biaya persiapan operasi ini juga biasanya merupakan biaya-baya yang
terjadi di awal-awal tahun sebelum sistem dioperasikan.

8.5 Biaya proyek (project-related cost)

Biaya proyek (project-related cost) berhubungan dengan biaya-biaya untuk
mengembangkan sistem termasuk penerapannya. Yang termasuk dengan biaya-biaya
proyek, antara lain :
1. Biaya dalam tahap analisis sistem.
   a. Biaya untuk mengumpulkan data.
   b. Biaya dokumentasi (kertas, fotocopy,dll).
   c. Biaya rapat.
   d. Biaya staff analis.
   e. Biaya manajemen yang berhubungan dengan tahap analisis sistem.
2. Biaya dalam tahap disain sistem.
   a. Biaya dokumentasi.
   b. Biaya rapat.
   c. Biaya staff analis.
   d. Biaya staff programmer.
   e. Biaya pembelian perangkat lunak aplikasi.
   f. Biaya manajemen yang berhubungan dengan tahap disain sistem.
3. Biaya dalam tahap penerapan sistem.
   a. Biaya pembuatan formulir baru.
   b. Biaya konversi data.
   c. Biaya latihan personel.
   d. Biaya manajemen yang berhubungan dengan tahap penerapan sistem.




8.6 Biaya operasi (on going cost) dan biaya perawatan
(maintenance cost)

Biaya operasi (ongoing cost) adalah biaya-biaya yang dikeluarkan untuk
mengoperasikan sistem supaya sistem dapat beroperasi. Sedangkan biaya
perawatan (maintenance cost) adalah biaya yang dikeluarkan untuk merawat
sistem dalam masa operasinya. Yang termasuk biaya operasi dan biaya
perawatan sistem, antara lain :
a. Biaya personil (operator, bagian administrasi, pustakawan data, pengawas
   data).
b. Biaya overhead (pemakaian telpon, listrik, asuransi, keamanan, supplies).
c. Biaya perawatan perangkat keras (reparasi, service).
d. Biaya perawatan perangkat lunak (modifikasi program, penambahan modul
   program).
e. Biaya perawatan peralatan dan fasilitas.
f. Biaya manajemen yang terlibat dalam operasi sistem.
g. Biaya kontrak untuk konsultan selama operasi sistem.
h. Biaya depresiasi (penyusutan).

Berbeda halnya dengan biaya-biaya lainnya yang biasanya terjadi sebelum
operasi sistem diterapkan, biaya operasi dan perawatan biasanya terjadi
secara rutin selama umur operasi sistem.

8.7 Komponen manfaat

Manfaat yang didapat dari sistem informasi yang dapat diklasifikasikan
sebagai berikut :
a. Manfaat mengurangi biaya.
b. Manfaat mengurangi kesalahan-kesalahan.
c. Manfaat meningkatkan kecepatan aktivitas.
d. Manfaat meningkatkan perencanaan dan pengendalian manajemen.

Manfaat dari sistem informasi dapat juga diklasifikasikan dalam bentuk
keuntungan berujud (tangible benefits) dan keuntungan tidak berujud
(intangible benefits). Keuntungan berwujud merupakan keuntungan yang berupa
penghematan-penghematan atau peningkatan-peningkatan di dalam perusahaan
yang dapat diukur secara kuantitas dalam bentuk satuan nilai uang.
Keuntungan berujud diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Pengurangan-pengurangan biaya operasi.
b. Pengurangan kesalahan-kesalahan proses.
c. Pengurangan biaya telekomunikasi.
d. Peningkatan penjualan.
e. Pengurangan biaya persediaan.
f. Pengurangan kredit tak tertagih.

Keuntungan tak berujud (intangible benefits) adalah keuntungan-keuntungan
yang sulit atau tidak mungkin diukur dalam bentuk satuan nilai uang.
Keuntungan-keuntungan ini diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Peningkatan pelayanan lebih baik kepada langganan.
b. Peningkatan kepuasan kerja personil.
c. Peningkatan pengambilan keputusan manajemen yang lebih baik.

Karena intangible benefits sulit untuk diukur dalam bentuk satuan nilai
uang, maka cara pengukurannya dapat dilakukan dengan penaksiran. Pelayanan
kepada langganan yang lebih baik merupakan contoh intangible benefits.
Dapatkah kita mengukur dalam satan rupiah pelayanan yang lebih baik ini ?.
Mungkin dapat kita coba untuk menganalisis dengan cara sebagai berikut :
a. Apakah akibat dari pelayanan yang 'kurang baik' kepada langganan ?
   Jawabannya adalah : pesanan langganan akan berkurang bahkan mungkin
   langganan tidak akan memesan kembali kepada perusahaan.
b. Seberapa banyak seorang langganan akan mengurangi pesanannya bila
   pelayanan kurang baik ? Mungkin kan mengalami kesulitan untuk mengukurnya
   dalam bentuk satuan nilai uang. Akan tetapi dapat mencobanya bersama-sama
   dengan pemakai sistem untuk menaksirnya. Misal dari taksiran ini
   didapatkan hasil sebagai berikut :
   · Sebanyak kemungkinan 50% langganan akan mengurangi 10% pesanannya.
   · Sebanyak kemungkinan 20% langganan akan mengurangi 50% pesanannya.
   · Sebanyak kemungkinan 10% langganan akan mengurangi 90% pesanannya.
   · Sebanyak kemungkinan 5% langganan akan mengurangi 100% pesanannya.
c. Kemudian dapat dihitung perkiraan kehilangan pesanan langganan sebagai
   berikut :
   Kehilangan pesanan = (50% x 10% pesanan) + (20% x 15% pesanan) +
                        (10% x 90% pesanan) + (5% x 100% pesanan)
                      =        (5% + 10% + 9% + 5%) pesanan
                      =        29% pesanan
d. Jika rata-rata langganan melakukan pesanan tiap tahunnya sebesar
   Rp. 1.000.000, maka dapat diperkirakan akan kehilangan sebesar 29% dari
   nilai pesanan ini, yaitu sebesar Rp. 290.000. Jika perusahaan mempunyai
   sebanyak 50 langganan, maka dapat diperkirakan jumlah total dari
   kehilangan pesanan ini adalah sebesar 50 x Rp. 290.000 = Rp. 14.500.000.
e. Ajukan analisis ini kepada manajemen dan gunakanlah analisis ini sebagai
   titik awal untuk mengukur intangible benefits.

8.8 Metode analisis biaya/manfaat

Setelah komponen-komponen biaya dan manfaat telah dapat diidentifikasi,
selanjutnya analisis biaya/manfaat ini dapat dilakukan untuk menentukan
apakah proyek sistem informasi ini layak atau tidak. Di dalam analisis
suata invetasi, terdapat dua aliran kas, yaitu aliran kas keluar (cash
outflows) dan aliran kas masuk (cash inflow). Aliran kas keluar terjadi
karena pengeluaran-pengeluran uang untuk biaya investasi. Aliran kas masuk
terjadi dari manfaat yang dihasilkan oleh investasi. Aliran kas masuk ini
sering dihubungkan dengan proceed, yaitu keuntungan bersih sesudah pajak
ditambah dengan depresiasi (bila depresiasi dimasukkan dalam komponen biaya).
Terdapat beberapa metode untuk melakukan analisis biaya/manfaat, diantaranya
sebagai berikut :

a. Metode periode pengembalian (payback period).
   Metode ini menilai proyek investasi dengan dasar lamanya investasi
   tersebut dapat tertutup dengan aliran-aliran kas masuk. Metode ini tidak
   memasukkan faktor bunga kedalam perhitungannya.

b. Metode pengembalian investasi (return on investment/ROI).
   Metode ini digunakan untuk mengukur prosentase manfaat yang dihasilkan
   oleh proyek dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkannya. ROI dari suatu
   proyek inventasi dapat dihitung dengan rumus :

               Total manfaat - total biaya
   ROI  =  --------------------------------
                        Total biaya

c. Metode nilai sekarang bersih (net present value/NPV).
   Metode payback period dan ROI tidak memperhatikan nilai waktu dari uang
   (time value of money) atau time preference of money). Satu rupiah nilai
   uang sekarang lebih berharga dari satu rupiah nilai uang dikemudian hari.
   NPV merupakan metode yang memperhatikan nilai waktu dari uang. Metode ini
   menggunakan suku bunga diskonto yang akan mempengaruhi proceed atau arus
   dari uangnya. NPV dapat dihitung dari selisih nilai proyek pada awal
   tahun dikurangi dengan total proceed tiap-tiap tahun yang dinilai uang
   ke tahun awal dengan tingkat bunga diskonto. Besarnya NPV bila dinyatakan
   dalam rumus adalah sebagai berikut :

                         Proceed 1    Proceed 2           Proceed n
   NPV = nilai proyek + ---------- + ---------- + .... + ----------
                        ( 1 + i )1   ( 1 + i )2          ( 1 + i )n

   i = tingkat bunga diskonto diperhitungkan
   n = umur proyek investasi
   Bila NPV bernilai lebih besar dari 0, berarti investasi menguntungkan dan
   dapat diterima.

d. Metode tingkat pengembalian internal (internal rate of return/IRR).
   Merupakan metode yang memperhatikan nilai waktu dari uang. Pada metode
   NPV, tingkat bunga yang diinginkan telah ditetapkan sebelumnya, sedang
   pada metode IRR justru tingkat bunga tersebut yang akan dihitung.
   Tingkat bunga yang akan dihitung ini merupakan tingkat bunga yang akan
   menjadikan jumlah  nilai sekarang dari tiap-tiap proceed yang
   didiskontokan dengan tingkat bung tersebut sama besarnya dengan nilai
   sekarang dari initial cash outflow (nilai proyek). Atau dengan kata lain
   tingkat bunga ini adalah merupakan tingkat bunga persis investasi
   bernilai impas, yaitu tidak menguntungkan dan juga tidak merugikan.


Daftar Pustaka


1. HM, Jogiyanto, Analysis dan Disain Sistem Informasi (Pendekatan
   terstruktur), Penerbit Andi Offset, Yogyakarta, 1995.
2. Davis S., David, System Analysis and Design A Structured Approach,
   Massachusette : Addison-Wesley, 1983, Module H.

No comments:

Post a Comment